Kriya di dalam Seni Rupa Kontemporer


08-Jul-2018

Pada craftmantalk yang pertama, kami mengundang dua orang pemantik untuk mengulik soal posisi kriya di dalam estetika modern. Dari diskusi itu, kita disuguhkan pengantar yang cukup komprehensif perihal bagaimana kriya menjadi subordinat di dalam paradigma estetika modern. Untuk kesempatan kali ini, kami hendak mengembangkan hasil dari obrolan tersebut, maju selangkah dengan melihat secara kritis bagaimana kriya ditempatkan di dalam (wacana dan praktik) seni rupa kontemporer. Kata “kontemporer” di sini tidak hanya mengacu pada lintasan waktu (masa sekarang/kiwari), tetapi juga dalam konteks diskursifnya; paradigma “kontemporer” dalam seni yang menjadi antinomi bagi seni modern.
***

Bagaimana posisi kriya di dalam konteks seni rupa kontemporer? Pertanyaan tersebut akan menjadi pemantik kita di dalam Craftmantalk kali ini. Tidak ada kesepakatan umum yang dijadikan sebagai penanda perihal tonggak awal dimulainya era seni rupa kontemporer. Dalam konteks seni rupa Barat, sebagian pihak menyebut tahun 1960-an, sebagian lagi menunjuk pasca-1989. Di kawasan lain, titik waktunya berbeda-beda; Afrika Selatan (pasca-apartheid), China (pasca-revolusi kebudayaan), dll. Dalam konteks seni rupa Indonesia, pendapat mengenai masa awal era kontemporer juga tidak seragam. Singkatnya, setiap tempat mempunyai kekhasan praktik dan bentuk pemaknaan yang berbeda-beda tentang apa itu kriya kontemporer.

Secara paradigmatis, praktik dan wacana seni rupa kontemporer (terutama dalam konteks seni rupa Barat) berupaya melampaui dikotomi antara fine art dan craft. Dikotomi itu dianggap bermasalah dan tidak lagi relevan. Sudah sangat banyak praktik yang mengombinasikan keduanya, sehingga batasnya menjadi sangat kabur. Kriya umumnya ditunjuk (dan ditandai) sebagai praktik yang bertumpu pada material, teknik dan/atau craftsmanship, bisa digunakan dalam bentuk praktik yang lain, begitu juga sebaliknya. Geliat semacam itu tentu menarik dan kita berharap bisa turut dibicarakan di dalam craftmantalk kali ini.

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami mengundang dua orang pemantik yang akan memberi terang gagasan perihal kriya dalam konteks seni rupa kontemporer dari dua kawasan berbeda. Pembicara pertama, Alia Swastika, akan membicarakan tajuk ini dalam ranah seni rupa Indonesia (dan barangkali, beberapa contoh praktik di Asia Tenggara). Sementara pembicara kedua, Hsiang-Wen Chen, diharapkan untuk membicarakannya dalam konteks seni rupa kontemporer di Taiwan.