Seniman kelahiran Wonosari, Gunungkidul pada 1 Maret 1957 ini mulai melukis kaca sejak tahun 1985. Sejak saat itu hingga sekarang, Sulasno cukup konsisten melukis kaca dengan subjek figur terkenal seperti Bunda Maria, Dewi Kwan Im, Putri Campa dan Semar dalam berbagai versi, termasuk figur Raja-Raja Keraton Yogyakarta mulai dari Hamengku Buwono I hingga IX.

Perjalanan hidupnya lumayan panjang dan berliku. Mengaku tidak tamat sekolah dasar, Sulasno muda pernah ikut rombongan Wayang Orang Cipto Kawedhar. Pun ia pernah bekerja sebagai buruh bangunan, tukang becak, hingga tukang pijat. Saat ini, Sulasno aktif mengajar di sekolah dasar, sebagai guru melukis kaca, guru Bahasa Jawa, kadang juga melatih teater.

Kecintaannya terhadap seni tradisional khususnya lukisan kaca, telah mengantarkannya sebagai satu dari sepuluh seniman yang mendapat Bentara Budaya Award tahun 2012 lalu. Sulasno terpilih oleh Dewan Kurator Bentara Budaya berdasarkan kriteria seniman yang masih aktif berkarya, kurang mendapatkan perhatian dan penghargaan dari publik, namun karyanya fenomenal.

Dalam pameran berduanya dengan Muhammad Hasan kali ini, Sulasno berpesan satu hal kepada generasi muda untuk jangan lupa melihat ke belakang, tak meninggalkan akarnya dan terus konsisten berkesenian.